Inner Thought

What I Know about Losing A Lover (Again)

There are so many things that people who have lost love knew. They knew that part of their soul have been gone to the alterside, a doorstep that very close yet far away. They knew about the wheel that keep spinning, and their direction has never been the same again since that day. They knew that the movie has end, but had they go home so soon, they will find empty bed and cold cake, untouched. So they would read the closing credits running on the big cinema screen just to buy more time. 

I know about losing. The dense air that pollute my lungs when I try hard to breath normally. Your familiar scent that brought back thousand ships of good memories. Every street and corner, places to exchange stories. Dreams that we build by stones and sweat. Songs that keep repeating the revery. Friends that keep wondering what’s going on with our story.

But it will go away.

People who have lost understand. That a mutual decision is not supposed to hurt. It meant to save each lover, encourage them, bringing the best in them. Sometimes it comes with the sweet pink ribbon package to set their lover free.

Why did I set you free? (Or you set me free). Maybe because we were just two adults who happened to stumbled upon each other pathway. We get along with great things in between.We made each other better, without demanding too much. You and I didn’t fit with all “against the wold” teenager crap, because we are – of course – belong to those bigheaded grown ups who want to make the world a better place.

But it eventually go away.

What people who have lost love learn, is that they once or twice love someone that much. It feel like they won’t make it a day more without their significant others. It feel like when there is a possibility that their precious is being taken away from them, it will ripped out their soul, body, and mind so cruel they might die painfully. But then it occured. And guess what, they don’t die.

I think I would suffer some terribly grey and cloudy days ahead when we part in that coffee shop downtown. I think I will weep the ocean dry. I think I will write sad stories, then play sad song, and eat sad ice cream with sad thick topping, while walking on the sad shoes, waving to sad cab that driving along the sad street. I didn’t.

It has gone away.

Truth is I forget how does it feel to be really sad. You built me brick and brick strong and sound. Truth is I slowly forget how does it feel to love you melancholically. Because I managed to wash the feeling away for good. But as cold as I become, remember that just because I don’t feel it anymore doesn’t mean the feeling once shared wasn’t true. It just is no longer relevant anymore, not if we mutually decided to move on to the next phase of life without each other companion.

And, just like other people who have lost love, someday we will find another lover. Someday I will find a person who makes me feel weird, person who doesn’t mind me being weird. And we will go in each other side to the weird place, wearing weird clothes, doing weird hobbies, reading weird books, talking weird languages, and admit how in each other company we feel the completely normal. That lover will be the reason of my simple happiness. Like never before.

.

.

.

But I’m afraid it will go away. Again.

Standard
Life Journal

Tentang Cinta di Antara Kopi, Rokok, dan Warung Kelontong

Musim hujan turun di Magelang.

Saat itu sekitar pukul tiga sore, kami -saya dan lima orang teman- kelimpungan cari tempat berteduh di jalan. Setelah berburu sunrise di Suroloyo paginya, kami bertolak ke Semarang dengan tiga motor yang beriringan. Sayangnya hujan deras hanya membolehkan kami sampai warung kelontong yang jual detergen, gorengan, kopi, dan atap.

Lama kami menunggu, berdempet-dempet di bangku kayu memandangi jalanan aspal basah dan orang-orang yang menepi ikut berteduh.

Di sebelah saya Andrall, teman perjalanan yang mengingatkan saya akan perpaduan Rendra dan Rano Karno di masa muda. Ia mulai uring-uringan. Rokoknya habis dan warung kelontong gagal menyediakan. Rupanya sudah sejak semalam ia tidak merokok. Merek rokok pacarnya -yang juga ikut dalam rombongan- pun tak bisa menggantikan apa yang ia inginkan.

“Ndrall.. apa itu mencintai?” saya potong gusarnya dia dengan pertanyaan.

“Ngggg??” Andrall bergumam, mencerna pertanyaan saya yang tiba-tiba.

“Menurutmu, mencintai itu apa?” saya susun ulang pertanyaan spontan tadi.

“Mencintai itu… adalah ketidakterpaksaan.”

Andrall mengalihkan pandangan ke arah depan, entah kepada hujan atau pacarnya. Saya tertegun, tidak menyangka jawaban dari mencintai adalah sebuah frasa adjektif.

“Kalau dicintai, itu apa?” saya bertanya lagi.

“Dicintai itu, Shof, adalah sebuah keberuntungan.”

Aaah.. Saya jadi kagum tapi malas mengaku. Sambil memutar-mutar gelas kopi, saya lanjut meluncurkan permainan tanya. Berharap kali ini Andrall tidak bisa menjawab.

“Lantas bisakah mencintai dan dicintai berdiri sendiri-sendiri?”

“Bisa,” kata Andrall pasti. “Tapi mereka seperti rokok dan kopi. Tak pernah lengkap tanpa satu sama lain.” Lalu ia menenggak kopi hitamnya yang sudah mendingin. Dan saya juga, ikut menghabiskan gelas kopi saya sendiri, yang saat itu baru terasa kemanisan.

Pukul lima. Hujan masih turun perlahan. Semarang harus kami relakan.

IMG_2723

Magelang, 7 Mei 2016

Standard
Poets

Pukul Tiga

*Untuk Samsul, Andrall, Oji, Gaga, dan Tirsa.

 

pukul tiga tadi aku mengamatimu

yang lelap dalam hitam tembaga

tubuh-tubuh lelah bersilang dan berjuntakposisi;

meracau keraguan-kekosongan bunga tidur

nyala dan rupa yang tak akan kau ingat esok hari

 

hanya aku yang akhirnya terjaga pada pukul tiga

bukan dengkurmu yang membangunkanku,

bukan aspal jalan raya yang tergilas truk dan meronta,

atau derit kipas angin yang

mengingatkanku pada ringkih tua ibu bapak kita

bukan perkara tidur kita

 

sebab alarmmu bising berbunyi sejak tadi

menjelma rencana suka cita ingin riuh

seperti subuh kemarin di puncak Kendil

O Suroloyo! wangi kabutmu pekat di wajah-wajah musafir

kenanganmu lekat direkam lensa gawai kami

 

tapi kantuk terlalu kejam, kawan,

terlalu kejam untuk melanjutkan perjalanan

 

di sebelah bantal-bantal,

kurutuki tangan-tangan kita yang sengaja bersisian

akankah kubangunkan kau yang terpejam damai?

apakah tega kusintas pertarungan batin yang bahkan belum kau selesaikan?

 

pukul tiga pagi yang hanya ada aku sendiri itu,

kurelakan pembicaraan tentang lereng Gunung Sumbing

menguar jadi embun pada spion-spion motor dingin di garasi

 

maka cinta pada matahari pagi itu, kawanku,

adalah sebuah peruntungan yang hanya sekali kita miliki

 

Magelang, 8 Mei 2016

Standard
Inner Thought

Dua Puluh Empat

Bilangan yang monumental karena tanpanya sehari tak genap. Dua tahun tak lengkap. Dan kalau bukan karena dipaksa usia, cerita tentang keberadaan rumah lama ini makin menguap.

Tapi ya, saat ini di sinilah saya, berbenah lagi. Pulang lagi ke Yogyakarta, ke kebiasaan lama, ke kanal-kanal maya yang dengan sengaja terabaikan. Berusaha keras menggapai-gapai kilasan kejadian yang walau tidak terlupakan, menjadi tidak lagi mampu terkatakan. Benar kata seorang guru, menulislah di kala terpana. Sebab jika sudah hilang rasanya, hilang juga gairah dan letupan-letupan pada tulisan itu. Lalu rohnya gentayangan menghantui saya, mengapa gagal kisanak mencatat sejarah?

Dua tahun saya menghukum diri. Menjual jiwa pada hibrida setan dan malaikat bernama Jakarta. Bertaruh sehabis-habisnya, karena saya lebih baik kehilangan daripada tidak mencoba.

Kebiasaan mengabadikan momen adalah salah satu yang saya lepas dengan merana di meja judi, saya dikutuk tak mengerti rasanya terpana lagi. Duluan mengantuk jika mau menulis lagi, sehingga hilanglah sejarah saya sendiri. Tapi sebagai ganti, saya dapat banyak kawan dan dengannya jadi banyak paham. Saya dapat banyak langkah, amunisi, dan strategi agar tidak bangkrut-bangkrut amat nanti ketika berjudi lagi dengan makhluk hibrida lainnya.

Saya mendapati bagian diri saya yang perlu ditemukan.

Dan di bilangan dua puluh empat juga, nanti ketika musim gugur tiba di belahan bumi sebelah utara, saya memutuskan untuk melakukannya lagi. Menjual jiwa raga pada hibrida lain yang kabarnya sangat pintar bersandiwara. Konon, New York namanya.

 

Pantai Indrayanti, 23 April 2016

 

Standard
11
Indonesia

Di Bawah Langit Dukuh Sebatang

 

Siang itu turun hujan, di sebuah rumah yang berjarak dari jalan aspal, jauh dari jalan raya, juga tidak terpetakan dari pusat kota, saya duduk menonton tiga anak bermain lempar bola di teras. Pagi hari, penderes nira naik ke pucuk pohon kelapa, lalu turun memikul sajeng (air nira) dalam tabung-tabung kayu yang dipikul di pundak, melintasi jalanan berbukit terjal yang menukik dan berbelok tajam. Oleh mereka, sajeng ini disetor ke pengolah nira untuk dimasak dan diproduksi jadi gula merah.

Di rumah yang sedang saya ceritakan ini, hidup sepasang nenek dan kakek yang setiap hari mencetak gula merah. Saya bersama teman saya, Rizka, adalah pendatang yang mampir berteduh di rumah ini. Rizka lanjut membantu nenek yang dipanggil Si Mbah di dapur mengirisi tomat dan brambang untuk makan siang, bergantian dengan saya yang perlahan menjauh mencari ruang untuk memperhatikan. Cucu dari Si Mbah tadi, salah satunya adalah anak yang sedang saya perhatikan dari jauh. Ia memisahkan diri dari kedua temannya yang lain, duduk di sudut yang bersisian dengan saya.

12

Si Mbah mengolah nira jadi gula kelapa

Di rumah yang sedang saya ceritakan ini, hidup sepasang nenek dan kakek yang setiap hari mencetak gula merah. Saya bersama teman saya, Rizka, adalah pendatang yang mampir berteduh di rumah ini. Rizka lanjut membantu nenek yang dipanggil Si Mbah di dapur mengirisi tomat dan brambang untuk makan siang, bergantian dengan saya yang perlahan menjauh mencari ruang untuk memperhatikan. Cucu dari Si Mbah tadi, salah satunya adalah anak yang sedang saya perhatikan dari jauh. Ia memisahkan diri dari kedua temannya yang lain, duduk di sudut yang bersisian dengan saya.

“Kamu suka hujan?” Saya memeluk lutut sambil duduk merapat ke arahnya, mempersingkat jarak.

“Ndak, Mbak.” Ia menjawab singkat.

“Lebih suka musim panas?” Saya bertanya lagi. Ia hanya mengangguk singkat tanpa kata. Masih asing dengan kehadiran saya.

“Kenapa?” saya bertanya lagi. Semoga pekerjaan sehari-hari yang mengharuskan saya sering bertanya sampai jadi kebiasaan, tidak membuat anak kelas 4 SD ini dongkol. Ia menggeleng lagi, menghindari tatapan mata saya. Mungkin karena terdengar menguji seperti soal Bahasa Indonesia di buku LKS yang tidak ia sukai, sementara ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara hujan di luar masih turun dengan derasnya.
Kunjungan singkat saya selama dua hari ke Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kulonprogo, Yogyakarta kali ini adalah dalam rangka bertemu dengan adik asuh dalam program pendidikan Menyapa Indonesia yang dijalankan oleh penerima beasiswa LPDP RI. Layaknya anak-anak desa pada umumnya, anak-anak Sebatang pemalu di depan orang asing. Jangankan beropini, berbicara sambil memandang lurus mata orang yang mengajak berbicara pun tak berani.

Anak itu bernama Zandy, adik asuh yang dipasangkan oleh Rizka sebagai Kakak Inspirasi. Sementara saya sendiri menjadi Kakak Inspirasi bagi Rimba, seorang anak laki-laki berbadan tambuh yang lebih periang, namun sama curiganya dengan kehadiran orang baru yang tiba-tiba. Kami baru saja berkunjung ke rumah Rimba sebelum menghampiri rumah Zandy. Rimba dan Zandy adalah teman sekelas. Dari salah satu teman koordinator program saya diam-diam mencatat hasil pemetaan observasi, mereka senang bermain di luar ruangan; Rimba senang bersepeda dan Zandy senang bermain layangan.

“Nek hujan, ra iso main layangan po?” celetuk saya sambil curi pandang ke layangan kuning-biru besar di sudut ruangan. Memegangnya dengan hati-hati, takut merusak benda kesayangan Zandy yang berharga ini.

“Ho’oh,” merasa terbantu dengan pertanyaan yang dijawab sendiri oleh orang yang menanyakan, Zandy tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang besar-besar. Dua anak yang lain menghentikan permainan dan merapat ke perbincangan kami.

“Yo nyanyi wae lah nek ngono!” di tengah percikan hujan yang memantul-mantul di genteng, saya ambil tempo dengan tepukan tangan, bersiap memimpin paduan suara, “Ku ambil buluh sebatang.. Ku potong sama panjang.. Ku raut dan ku timbang dengan benang.. Ku jadikan layang-layang…” Hening. Tidak ada yang pernah mendengar lagu itu sebelumnya kecuali saya, seseorang dengan usia yang berjarak, serta ruang kehidupan yang sebelumnya terpisah. Jauh.

 

Fungsi Pendampingan dalam Proses Belajar Anak adalah Tugas Bersama

Zandy, Rimba, Ridho, Shafiq, Edi, Bherta, Dwi Astari, dan Dwi Riyanti. 8 orang anak kelas 4 SD Muhammadiyah Menguri ini selama 3 tahun ke depan menjadi adik-adik asuh kami. Amanah baru bagi kami di Menyapa Indonesia.

Program Menyapa Indonesia adalah inisiatif sosial yang dikembangkan oleh awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia. Setiap angkatan memiliki fokus yang pengembangan masyarakat yang berbeda, secara berkelanjutan selama tiga tahun. Jivakalpa, angkatan 43, fokus pada pengembangan masyarakat di bidang pendidikan dan kebudayaan di Sebatang. Cetak biru rencana kegiatan, pengembangan, dan monitoring evaluasi berkelanjutan telah dibuat dengan tidak main-main. Meski lokasi program Menyapa Indonesia kami berada di Yogyakarta, hampir setiap minggu ketika program berjalan, beberapa awardee dari luar kota menyempatkan hadir.

Forum Kakak dan Wali Inspirasi yang diselenggarakan pada tanggal 7 November 2015 ini merupakan salah satu program di bidang pendidikan. Forum tersebut mengundang orang tua dan wali siswa, siswa, guru, dan kepala sekolah untuk duduk bersama dan berdiskusi tentang pendampingan anak. Di dalamnya, anak-anak didorong untuk berprestasi, memiliki semangat belajar tinggi, dan berani mencoba melakukan hal-hal yang mereka sukai. Forum ini juga dijadikan ajang “kulo nuwun” untuk pendekatan pendamping anak dengan pihak sekolah dan keluarga.

13

Orang tua dan wali bersama siswa dalam forum

“Dulu belum pernah ada pertemuan wali dengan sekolah. Setelah ada program Menyapa Indonesia, semua merasa memiliki program ini dan mau hadir di sini,” kata Bu Uji, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Menguri. Bu Uji ini adalah tipikal kepala sekolah yang aktif dan bersemangat mendampingi anak didiknya dalam proses belajar, namun masih belum mendapatkan dukungan maksimal dari orang tua dan wali murid.

Saya termenung. Masalah klasik yang jarang ditemui di kota karena setiap orang tua yang bayar mahal tentu rajin mencari tahu perkembangan anaknya di sekolah. Namun di desa, jangankan bertemu dengan pihak sekolah, untuk bertemu anak pun, banyak masih terhalang ruang dan waktu. Tuntutan ekonomi membuat beberapa orang tua siswa bekerja sebagai TKI di luar negeri, bertahun-tahun tidak pulang. Pun bekerja di sekitar desa, mata pencaharian sebagai supir truk, peternak, dan penderes nira cukup menyita waktu sehingga edukasi anak tersingkir ke nomor sekian setelah urusan perut dan kemelut kehidupan.

Padahal, tanpa pendamping, anak akan tumbuh menjadi burung yang melihat dunia dalam sudut sangkar yang persegi empat, ketika di luar sana ada horizon yang melintang tanpa sudut batas. Sempat saya iseng ngobrol dengan seorang bapak yang rumahnya kami tinggali untuk bermalam, tentang pendidikan anaknya.“Wah ndak tau, Mbak. Sekolahnya anak itu urusan ibunya anak-anak. Saya sibuk sama kerjaan e, Mbak.”

Saya nyengir kuda. Lha kalau bapak berharap ke ibu, ibu  berharap ke guru, guru berharap ke kepala sekolah, kepala sekolah berharap ke kami, kami berharap ke siapa dong?

Lingkaran kejar-kejaran ini lumrah ditemui di berbagai pelosok di Indonesia. Oleh karenanya program pemberdayaan masyarakat idealnya digalang untuk berjalan dalam waktu panjang. Karena proses pendekatan, seperti yang siang itu saya lakukan kepada Rimba dan Zandy, memang tidak bisa secepat merebus mie instan, lima menit jadi, sepuluh menit kenyang.

Andai semudah itu…

 

Sepucuk Surat dan Khayalan tentang Masa Depan

Bagi saya dan teman-teman, hadir ke Sebatang bukan hanya perkara menyisihkan budget untuk transportasi dan waktu akhir pekan untuk berjalan lebih jauh. Tapi melihat bahwa ruang interaksi kami yang sempit ternyata bisa menjadi lebar jika sudah bertemu. Jika sudah kenal, dekat, saling percaya, maka fungsi pendampingan menjadi sesederhana menjadi teman sepermainan bagi semua pihak yang sedang berjuang di sana.

Salah satu usaha pendekatan yang kami lakukan adalah mengirimi surat motivasi kepada adik asuh di sana. Beberapa teman juga menjembatani tukar sapa antara teman-teman di UK dari asosiasi alumni LPDP, Mata Garuda, yang mengirimkan kartu pos kepada mereka. Semua anak mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika saya tanya siapa yang ingin ke Inggris. Sebelumnya, Mas Sandro bercerita di depan kelas tentang empat musim di Inggris ketika dia tinggal dan bekerja di sana. Surat dan cerita jadi bahan bakar kami mengkhayal tinggi-tinggi. Ke negeri yang tanahnya belum tersentuh, yang namanya tersohor lewat olahraga sepak bola yang setiap sore dimainkan anak-anak di Sebatang.

14

Zandy (baju hijau), adiknya (baju putih), temannya (baju merah), dan saya yang berjuang keras menarik perhatian mereka dengan topeng gorila

Mungkin karena itu, sepulang sekolah, Zandy yang ibunya sudah bertahun-tahun tidak pulang karena bekerja di Hongkong, menulis surat balasan untuk Rizka dan menyerahkannya tanpa suara.

==

Halo Kak Rizka, Ini Zandy.

Ini ada surat untuk Kak Rizka.

Semoga Kak Rizka bisa tersenyum.

Semoga Kak Rizka semangat kuliyahnya.

Kalau aku di Sebatang Belajar untuk meraih cita-cita ku. Saya belajar mahrib sampai insyak. Aku Juga Belajar dengan tekun.

Salam Zandy

Tanda tangan

==

“Terima kasih ya, Zandy. Suratmu bagus sekali.” Rizka memeluk adik asuhnya di depan saya. Zandy hanya diam, tertunduk. Sedetik kemudian ia mulai terisak, menggulirkan butir-butir bening dari matanya yang mendung dan basah. Entah karena malu atau karena berharap suatu saat, ibunya yang mengirimkan surat dan memuji surat balasannya. Rizka ikut menitikkan air mata, sementara di luar hujan masih turun dengan derasnya.

Di sudut rumah yang dipenuhi mainan yang dikirimkan dari Hongkong, hari itu saya mencoba memahami, Zandy lebih suka bermain di luar, menerbangkan layangan sekaligus khayalan. Mungkin ada pesan yang tidak terucapkan dengan kata, yang hanya bisa dimengerti oleh angin dan dua musim di bawah langit Sebatang.

Senyap karena Zandy dan Rizka masih menangis tanpa suara, saya yang merasa canggung lalu menepuk-nepuk pundak mereka berdua sambil bersenandung pelan.

“Bermain… Berlari… Bermain layang-layang.

Bermain ku bawa ke tanah lapang.

Hati gembira dan riang…”

*tulisan ini dipublikasikan di website angkatan penerima beasiswa BPI LPDP RI angkatan 43, Jivakalpa di sini

Standard
Life Journal

HH

Arsitekata

Dua kali ketukan di pintu.

Salah seorang office boy masuk setelah dipersilakan. Mamase–panggilan akrab bagi pesuruh di kantor saya–mengangsurkan sebuah buku gambar A3. Penerimanya sumringah, “Nah ini dia, Shal.”

Yang saya tahu selanjutnya, buku gambar itu jadi favorit yang hampir selalu dibawa-bawa.

Di buku itulah dia sering menggambar skema masalah yang sedang menggelayut di pikirannya. Selalu dimulai dengan bulatan di tengah, entah untuk menggambarkan himpunan atau entitas. Lalu bulatan itu akan bertumpuk, bercabang, atau berjukstaposisi sampai skema itu selesai atau bagian bersih di kertas sudah habis.

Jangan lengah menyimak saat dia sedang menjelaskan skema dibuat. Percayalah, tidak ada gunanya mencontek salinan skema punya teman sebelah, tak perlu juga menghapal skema-skema itu. Karena bagian terpenting adalah penjelasannya itu sendiri. Saya yakin, tak ada patokan baku dari skema-skema tersebut karena dia pun akan membuatnya dengan cara (sedikit) berbeda pada kesempatan berikutnya.

Skema-skema dinamis itu seolah menjelaskan bahwa dia sudah muak betul dengan…

View original post 528 more words

Standard
Indonesia

Lintas Kalimantan ke Kapuas Hulu

“Kursi Kalstar penuh. Sudah tiga hari penerbangan ditunda karena asap.”

Vonis final petugas jaga di Bandara Supadio Pontianak itu mengirim kami melalui perjalanan darat ke Putussibau selama kurang lebih 15 jam. Memanggul tas backpack dan tas jinjing berisi peralatan amunisi sebagai fasilitator, Mbak Hety dan saya bergegas mencari tiket mobil travel yang bisa membawa kami secepatnya ke lokasi tujuan. Memang pagi itu adalah pagi pertaruhan bagi kami yang sedang site visit ke lokasi penempatan Indonesia Mengajar di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

Kami sengaja tidak memesan tiket pesawat karena kondisi asap yang membuat jadwal penerbangan tidak menentu. Paling aman memang lintas kabupaten lewat jalur darat: walau menuntut kesabaran dan keiklasan untuk terantuk-antuk dan terguncang, jalur Lintas Kalimantan masih bisa diprediksi.

Tapi di pulau terbesar di Indonesia ini, daratan luas dan garang. Luas yang memanggil dan garang yang menantang. Kalimantan, akhirnya kita jumpa juga!

 

 

1a

duo site visitor IM

Desa-Desa di Pesisir Sungai Kapuas

Sungai terpanjang di Indonesia, Sungai Kapuas, mengaliri sekat-sekat antar kecamatan di Kapuas Hulu. Perjalanan lintas desa ditembus dengan perahu dengan berbagai macam nama: speed, sampan, dan banyak lagi ragam transportasi air lainnya. Melintasi rumah kayu terapung yang disebut lanting, serta melalui warung transit tempat supir-supir speed mengisi bahan bakar kendaraan maupun perut. Pada musim kemarau, anak Sungai Kapuas yang sempit mengering dan dapat dilewati dengan kehati-hatian ekstra tukang ojek. Di musim saat debit sungai naik pun, berpindah tetap tidak gampang.

2

3

Mengarungi sungai (doc. PM X Kapuas Hulu)

Untuk mencapai sebuah kampung di Bunut Hilir, Nanga Lauk, misalnya, kita harus menunggu sampai ada kuota penumpang perahu cukup untuk berangkat. Menunggu bisa dalam hitungan jam sampai hari. Jika ingin cepat, siap-siap merogoh kocek yang kira-kira setara membeli tiket ke Australia hanya untuk melakukan perjalanan pindah desa di kabupaten yang sama. Ke Semalah juga tak kalah menantang. Teman-teman saya yang ke sana butuh waktu sehari penuh yang dihabiskan dengan rute bis, jalan kaki, ojek dan perahu sekaligus! Perjalanan lintas desa di Kapuas Hulu yang menyita tenaga juga sekaligus menyuntikkan energi baru. Saya sempat bermalam di Desa Teluk Aur, yang ditempuh lewat perjalanan air dengan speed selama 3-4 jam. Dinar, Pengajar Muda yang bertugas di desa ini, langsung disambut oleh anak-anak dan warga begitu menjejakkan kaki di dermaga. Riuh sekali, seperti baru pulang setelah bertahun-tahun pergi. Namun akhirnya saya mengerti, dengan kontur demografis seperti ini, tidak semua orang punya kemewahan untuk sering-sering pergi lalu pulang kembali.

4

Dinar, Pengajar Muda X Teluk Aur, Kapuas Hulu

5

Rumah panggung di Teluk Aur

Teluk Aur adalah kumpulan rumah-rumah panggung yang tertata rapi. Anak-anak maupun tua renta lincah meniti jalan-jalan tinggi yang ditopang tanggul kayu. Menurut cerita orang lokal, desa ini pernah menjadi desa percontohan pelepasan Orang Utan versi WWF. Saya bertemu seorang penggerak pendidikan lokal, Bapak Dayat, yang tidak lulus SD tapi bekerja sebagai fotografer lepas untuk WWF.

“Prinsip saya, biar (saya) tidak bisa keliling dunia, yang penting karya saya bisa ke mana-mana,” kata Pak Dayat. Karya fotonya memang sudah sampai menembus pameran internasional sampai ke Jerman dan negara-negara tetangga. Teluk Aur yang ketika malam gelap gulita tanpa pelita ini, punya mutiara-mutiara cemerlang yang tumbuh dan bersinar dengan caranya sendiri.

Akar budaya dan sejarah yang lestari

Setiap orang punya akar. Kapuas Hulu mengingatkan saya dengan akar saya di Pulau Bangka. Girang sekali rasanya sekali ketika disuguhi kerupuk basah, makanan khas Kapuas Hulu yang terbuat dari ikan, tepung, dan bawang putih yang digulung jadi adonan dan direbus. Makanan ini seperti empek-empek khas Sumatera Selatan, hanya saja berbeda tekstur dan rasa. Bahkan beberapa frasa dan dialek daerah yang digunakan di sini juga mirip dengan bahasa Melayu yang digunakan di Bangka. Dalam waktu kurang dari sehari, saya beradaptasi memaksa lidah menyelipkan beberapa kata lokal dalam percakapan seperti ‘aok’, ‘sepradik’, dan ‘dak’. 

6

Kerupuk basah khas Kapuas Hulu

Bagian yang menyenangkan dari perjalanan ke daerah baru adalah melakukan observasi etnografi singkat. Belajar bahasa adalah salah satu metode efektif, terutama ketika pekerjaan menuntut untuk melakukan pendekatan dengan warga lokal untuk mengerti keadaan program di sana.

Tidak seperti Ibukota Putussibau yang sudah didiami sejumlah pendatang dari suku Tionghoa, Minang, dan lainnya, Suku Melayu dan Dayak menjadi suku yang dominan di daerah pinggir sungai dan pedalaman. Suku dan agama menjadi dikotomi yang tidak terpisahkan: Melayu pasti Islam, Dayak pasti Kristen. Saya sempat tergelak ketika diceritakan Dini, Pengajar Muda di Desa Kepala Gurung, alkisah ada orang Dayak yang pindah agama menjadi Islam. Kemudian dia mendeklarasikan dirinya pindah suku juga menjadi Melayu. Betapa suku dan agama telah menyatu jadi identitas yang saru.

Kemampuan beradaptasi dengan bahasa Melayu yang sudah familiar bagi saya ternyata lebih susah diterapkan untuk bahasa Dayak sangat beragam. Suku Dayak sendiri banyak rumpun; rumpun Kalimantan, Iban, Apokayan, Murut, Ot Danum-Ngaju, dan Punan. Setiap kelompok rumpun punya cabang dan berbeda-beda pula bahasanya. Kunjungan budaya yang menarik dari perjalanan bersama Lissa dan Dinar kali ini adalah kesempatan mengunjungi rumah adat khas masyarakat Dayak Kalimantan: Rumah Betang!

7

Rumah Betang Dusun Malapi Patamuan, Putussibau Selatan

Rumah Betang berbentuk panggung dan memanjang. Sangat panjang malah. Rumah yang saya kunjungi memiliki 37 pintu, yang dihuni oleh 47 Kepala Keluarga. Bayangkan saja keributan yang terjadi jika beberapa anak berkelahi, atau beberapa ibu bergunjing layaknya di kota-kota. Tapi siang itu para penghuni rumah sedang bekerja di ladang. Saya yang tidak bisa memastikan bayangan keributan macam apa yang terjadi dengan puluhan penghuni di bawah satu atap, memilih untuk berasumsi bahwa mereka hidup rukun sekali.

Untuk menyebrang ke sisi sebelah sungai Putussibau Selatan tempat Rumah Betang ini berada, kami harus memecahkan misteri yang rumit: bagaimana caranya mendapatkan tumpangan dari perahu nun jauh di seberang? Setelah hampir putus asa mencoba berteriak-teriak dari seberang sungai, untunglah Lissa (Pengajar Muda X Gudang Suai) menemui warga yang kemudian memberitahu mantera ajaib untuk menyebrang, yaitu berteriak “tambang..tambang!” Teriakan itu memang pada akhirnya didengar sebagai sandi yang dimengerti. Tak sampai lima menit, ada sampan yang menjemput kami ke seberang, ke Rumah Betang.

Kami bertemu dengan Bapak Stephanus Sakumpai yang menjaga rumah. Lewat beliau kami diperkenalkan dengan silsilah pohon keluarga Bai’Tii’ Piangdayu’ Tungo yang mendirikan rumah ini sejak tahun 1741. Lebih tua dari umur negara ini. Salah satu tetua yang masih hidup ternyata adalah veteran pejuang Dwikora pada masa itu.

7a

Silsilah Bai’Tii’ Piangdayu’ Tungo

Rumah Betang Malapi ini adalah satu-satunya Rumah Betang di sisi kiri sungai yang terdapat di Putussibau Selatan. Di sini, ritual dijaga dengan kuat. Jika ada tetua yang meninggal, alat musik kangkuang dipukul secara bertalu-talu untuk menandakan mulainya momen sakral. Lalu mulailah pesta potong kerbau, ritual tari, dan penyemayaman jenazah di tempat kehormatannya. Konon ceritanya, ritual ini bisa makan waktu berhari-hari.

Masyarakat Dayak Taman tidak lepas dari sejarah perbudakan yang melibatkan ritual kurban manusia pada musim paceklik, atau pada momen-momen ‘tolak bala’. Namun pada tahun 1860, moyang-moyang Suku Dayak menghapuskan perbudakan (ulun paangkam) sekaligus menegakkan hak asasi manusia dengan mengganti kurban dengan hewan peliharaan. Monumen tooras didirikan di depan Rumah Betang Malapi sebagai simbol pengingat sejarah yang mengubah hidup mereka.

9a

Monumen Toorah

Di sini, kami hanya sekelompok orang asing yang mengetuk pintu rumah mereka dengan ingin tahu. Bapak Stephanus dengan baik menanggapi ketukan itu tanpa curiga dan pamrih, seakan yang datang adalah teman lama. Akan lain jadinya jika yang kami ketuk adalah pintu-pintu rumah di Jakarta yang pagarnya tinggi melindungi diri. Dari sini saya bersyukur, masih ada titik-titik yang tersebar di seluruh Indonesia, di mana kepercayaan terhadap sesama bukan jadi barang langka.

Walau harus melintasi sungai, menunggu ada perahu warga yang menepi untuk ikut ke seberang, kunjungan ke Rumah Betang yang singkat ini sangat berbekas dalam ingatan. Ketika pulang, saya ingin tetap ingat bahwa perjalanan ini bukan hanya lintas ruang geografis, tapi juga ruang waktu.

Menyisiri aliran Sungai Kapuas. Di sepanjangnya, cerita kehidupan ikut mengalir…

10

Kapuas Hulu, 11-18 Oktober 2015.

*Tulisan ini dipublikasikan di Kompasiana, 20 Oktober 2015

 

Standard