Life Journal, USA

Menjadi Seorang New Yorker dari Indonesia

Saya ingin memulai cerita ini dengan membenarkan bahwa Tuhan benar-benar baik.

Sewaktu kecil seorang teman meramalkan saya akan tinggal jauh dari rumah. Saya mengiyakan saja. Untuk seorang anak daerah yang bahkan tidak pernah melihat Jakarta, bayangan menjelajahi tempat-tempat jauh sungguh mimpi yang menyenangkan. Tidak pernah saya bayangkan, mimpi itu jadi kenyataan. Tidak tanggung-tanggung, jangkarnya mendarat di benua Amerika, land of the free and home of the brave.

Ini adalah minggu pertama saya pindah ke City of New York. Lagi, Tuhan memang baik, karena ia membenarkan bahwa tak ada doa yang terlalu tinggi. Bagi saya, doa itu adalah sebuah kesempatan untuk mendapatkan beasiswa LPDP dan juga kesempatan berkuliah di kampus Ivy League Columbia University. Program kuliah S2 saya akan memakan waktu 1,5 tahun dimulai. Karena materinya akan sangat berbeda, saya berniat menuliskan tentang dunia perkuliahan di postingan terpisah.

Sebenarnya jauh di lubuk hati saya masih ketar-ketir dengan load perkuliahan yang tinggi, serta proses adaptasi yang penuh tantangan. Namun sebagaimana setiap orang yang ada di New York adalah para survivor, penyintas kehidupan, saya pun harus jadi salah satunya. Sebab itu, tema besar untuk berbulan-bulan ke depan adalah belajar bagaimana menjadi seorang New Yorker dari Indonesia.

***

IMG_4950

Elmhurst, Queens

New York adalah tempat pertemuan dan peleburan banyak hal. Demografi keberagamannya sungguh luar biasa. Ratusan ras dan etnis bergabung jadi satu entitas: citizen of the world. Kali pertama menginjakkan kaki di New York pada tahun 2012, saya adalah seorang turis yang jatuh hati dengan kota ini. Kota ini adalah paradoks, liar dan berbahaya, namun hangat dan penuh kejutan menyenangkan. Berjalan-jalan di setiap sudutnya sebagai turis tentu berbeda dengan berusaha melebur sebagai salah satu penghuninya. Kini saya lebih peka, meniru cara orang berbicara, naik subway, membaca peta, membuat rencana finansial, mencari kenalan, dan memahami hal-hal kecil yang terjadi sambil berjalan dari taman ke taman.

Saya memutuskan untuk menyewa kamar di sebuah shared-apartment untuk 4 bulan pertama di area Elmhurst, Queens. Jauh memang jaraknya ke kampus di Upper Manhattan yang membutuhkan waktu 1-1,5 jam perjalanan dengan subway. Namun perumahan dan biaya hidup di sini relatif lebih murah, dengan lingkungan sub-urban yang lebih tenang. Banyak populasi orang Asia di sini. Bahkan, ada 3 restoran Indonesia (Upi Jaya, Sky Café, Asian Taste 86) dan toko barang-barang Indonesia (Indojava) di Elmhurst. Ini jadi alasan banyak orang-orang Indonesia berdatangan ke area Elmhurst di akhir pekan atau ketika libur, untuk mengobati rindu rumah. Proses adaptasi budaya saya pun jadi terbantu, setidaknya pelan-pelan menyesuaikan diri di lingkungan yang familiar sebelum memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru lagi.

Ketika berjalan, saya mendengarkan banyak bahasa dan aksen berbeda diperbincangkan oleh berbagai orang yang lalu lalang. Saya melihat warna kulit dan rambut yang berbeda, gaya berpakaian yang tidak sama, serta tingkah laku dan polah aneh yang tak terduga. Namun satu hal yang pasti, setiap orang adalah minoritas, partikel kecil dari kelompok yang sangat besar. Karenanya, perbedaan bukan suatu masalah. Ini justru membuat orang-orang di sini yang individualis, justru punya kesadaran tinggi untuk saling menjaga para orang-orang asing di sekitarnya. Karena konon,polisi di distrik ini memang canggih dan siap siaga, tapi selalu banyak hal tak bisa diprediksikan terkait keamanan. Oleh karenanya, mereka memasang pesan kampanye sosial yang tak akan luput di mata orang yang berpergian menggunakan kereta Metro: New Yorkers keep New Yorkers safe. If you see something, say something.

***

IMG_4805.JPG

Union Square, Manhattan

Manhattan adalah sektor kota di New York yang paling metropolitan. Pusat dari sektor industri, pemerintahan, obyek wisata, serta pusat perbelanjaan ada di sini. Hari pertama begitu mendarat di bandara John F. Kennedy, sorenya saya bersama teman-teman awardee LPDP mengadakan kopi darat di Manhattan. Berjalan-jalan di taman Washington Square sambil melawan lelah dan kantuk karena Rifda, Binar, dan saya masih jetlag setelah sekitar 30 jam perjalanan udara dari Jakarta melewati Dubai.

Sore itu, saya dan Tri duduk di taman bersama puluhan orang yang sedang rehat sore, dan menyaksikan pertunjukan seni jalan dadakan. Sekelompok orang hispanik menabuh gendang, dan menari di pinggir jalan. Di sisi taman yang lain, seorang pria menggelar grand piano di gerbang taman dan unjuk kemampuan memainkan musik klasik di tengah kerumuman orang. Walau tak ada hubungannya, tapi rasanya kedatangan kami disambut dengan riang.

Nuansa kota yang begitu hidup ini pun berlanjut ke hari-hari dan malam-malam selanjutnya. Seperti cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan karya Umar Kayam yang saya baca ulang sebelum berangkat, lampu-lampu pencakar langit yang bertaburan mengingatkan saya pada sebuah desa nun jauh di Jawa sana. Cerita cinta Marno dan Jane yang berdebat tentang bulan berwarna ungu, adalah penggambaran betapa di New York, hal-hal yang tak biasa malah jadi lumrah dan apa adanya.

***

IMG_4802

Setiap orang adalah penyintas. Dalam duduk-duduk santai sambil berburu Pokemon di Central Park dengan Rifda dan Mas Rami, ada perbincangan tentang orang-orang Indonesia yang kami kenal sudah jadi permanent residence di New York. Mereka datang dari latar belakang yang menarik. Bukan scholars yang dapat privilege sekolah seperti kami, yang nantinya akan pulang lagi ke Indonesia untuk membangun negeri. Mereka, golongan orang-orang yang di masa lalu pun tidak beruntung mengenyam pendidikan tinggi, dengan bermodal nekad berani datang ke kota ini dan memulai hidup baru. Ada yang jadi pelaut, memalsukan dokumen tugas kerja, sampai diam-diam jadi pekerja striptis demi menyambung hidup. Pada akhirnya mereka bisa bertahan dan jadi seorang New Yorker sejati: penyintas kehidupan.

Padahal awalnya saya sudah merasa perjuangan menuju sini berat sekali adanya. Banyak hal-hal besar yang telah dikorbankan. Hal-hal yang membuat saya ingin menangis, lelah, sampai depresi. Hal-hal yang tidak bisa saya bagikan dengan leluansa. Namun ketika sudah sampai di sini dan melebur dengan kehidupan New York, saya jadi merasa perjuangan tersebut baru ujian pre-test untuk kehidupan di sini. Karena setiap orang pun punya perjuangannya sendiri-sendiri.Dan juga karena saya tidak hanya membawa nama sendiri, tapi juga nama Indonesia, Asia, Islam, dan segala hajat hidup yang ingin diraih di tanah Amerika. A lot to bear, a lot to gain, Insha Allah.

Bahkan Freud pun dengan sederhana menjelaskan lewat Iceberg Theory-nya, bahwa apa yang kita lihat dari seseorang adalah bongkahan es di atas permukaan saja. Padahal yang terjadi sesungguhnya, fondasi dan apa-apa saja yang menjadikan orang itu bermula, ada di bawah permukaan.

Begitulah. Di balik wajah-wajah garang, langkah cepat, penampilan edgy, dan nada bicara yang berapi-api para New Yorker, ada segunung besar cerita hidup yang tidak kasatmata. Untuk itu saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip Plato, untuk mengingatkan kita terutama di masa-masa yang akan datang.

“Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.”

 

 

Standard
Short Stories, Writing Project

Sebatang Kara

sebatang kara

DULU di sebelah rumah ini tinggal seorang pria dengan sebatang Kara yang dijaganya. Dia pemilik rumah terbesar di pinggir kota ini. Lahan di belakang rumahnya berhektar-hektar, dikelilingi pagar besi dengan kawat listrik melingkar kusut di atasnya. Banyak yang berkata ia menyimpan narapidana di dalamnya. Ada pula yang mengira ia adalah anggota sekte sesat yang suka mengambil bayi dan gadis-gadis, kemudian minum darahnya di sana. Sebagian tidak ambil pusing dan berkata mungkin dia pengusaha tambang kaya yang sedang menandai teritori baru untuk mengeruk lagi perut bumi kita.

Namun aku tahu yang cerita yang sebenarnya. Ia hanyalah seorang ilmuwan yang gemar mengoleksi seratus pohon di sana.

Setiap pagi pria itu membuka jendela saat sinar matahari tepat tiga puluh derajat masuk dari ventilasi kamarnya. Burung-burung masih pandai memainkan sandi morse dan ular hijau kadang-kadang menggantung basah terkena embun. Sebelum ia membenarkan letak kacamata di atas hidungnya, ia bahkan suka melihat tupai bersayap terbang dari dahan ke dahan.

Setelah minum kopi dan menggosok gigi pria itu akan berjalan menyusuri pohon demi pohon, dahan demi dahan, ranting demi ranting, dan daun demi daun. Mengabsen satu per satu,

Agatis, Dyera, Terminalia, Pterygota, Pinus, Peronema canescens….

Dari seratus nama latin yang berbeda dari semua pohon ini, dia menamakannya satu per satu seperti anak yang dilahirkannya sendiri.

Gia. Detta. Rambo. Xena. Semuanya sesuka dia. Meski di mataku semua pohon terlihat sama saja, dia akan marah kalau kau mengatakan itu padanya. Bukankah kau tidak pernah mengatakan setiap manusia terlihat sama meskipun mereka memang sama-sama punya dua mata, satu hidung, dan satu mulut? Begitu katanya.

Lama aku berpikir sambil tetap mengamatinya dari kejauhan. Seiring rintik-rintik hujan yang mengaburkan kacamatanya, ia berbicara kepada pepohonan. Perkara apakah ia sendirian, entahlah. Sepertinya banyak kebenaran yang tersembunyi dalam keanehan.

PAGI itu ada paket kiriman bibit pohon yang dipesannya. Aku kira ada mati dari seratus pohonnya sehingga harus diganti, namun ternyata ia hanya merasa seratus masih terlalu sepi. Digenapkannya lagi ganda menjadi seratus lagi dengan masing-masing spesies yang sama, ia ingin setiap anak pohonnya berpasangan.

Aku melihatnya hari itu menghitung satu-satu bibit pohon yang baru datang pagi itu, dan menyaksikan keningnya berkerut ketika sampai ke hitungan terakhir.

“Seratus satu? Tapi aku hanya membutuhkan seratus saja!”

Sambil geleng-geleng kepala, bibit tambahan yang tersisa itu disingkirkan dari hutan kecilnya. Lalu ditanam depan jendela kamarnya.  Ia beri nama Kara.

Di bawah bayangan kanopi rumah yang teduh siang hari dan lampu taman kekuningan yang berjajar di setapak menuju hutan kecilnya, sebatang Kara itu tampak begitu tenteram sendiri. Tidak ada yang mengusiknya. Tidak ulat-ulat gemuk yang sering datang untuk menggerogoti daun-daun bunga matahari dan wijayakusuma yang ia tanam silang, tidak pula kawanan lebah yang sering kawin di sela bunga mawar yang ia pangkas sendiri. Semua menjauh dari Kara. Membiarkannya tetap tenteram dalam keteguhan yang sama dengan pria di balik kaca jendela itu. Aku tidak pernah mendengarkan tawa lagi dalam hari-hari pria itu. Semua suara diredamnya dalam diam yang disimpannya di dalam tanah. Aku pun tidak mengerti bagaimana bisa sebatang Kara bisa mengubah seorang pria yang dulu ku kenal banyak canda. Mungkin benar kata orang, pria sejati tidak akan bicara kecuali ia rasa benar-benar perlu. Dan ku rasa, dia tidak akan bicara sebelum bisa bercerita tentang kenapa, di antara padatnya dunia, sebatang Kara tiba-tiba menemukannya.

Minggu demi minggu, bulan demi bulan berlalu. Semua pohon sudah bercabang, berakar panjang, dan berdaun rindang.

Tapi Kara tetap sama seperti hari ketika ia menanamnya. Kara hanya sebatang yang mencuat ke atas Tanpa cabang, tanpa akar panjang, tanpa daun rindang. Kara hanya sebatang.

Ini aneh. Tumbuhan harusnya tumbuh, bukan? Karena itu ia disebut tumbuhan. Keanehan ini membungkam pria itu lebih dalam lagi. Jadi yang pertama dilihatnya setiap matahari sedang tiga puluh derajat sinarnya. Jadi yang pertama disaksikannya setelah tegukan kopi dan sebelum gosokkan gigi. Kara tetap seperti itu, sebatang saja.

Di laboratoriumnya, pria itu telah melakukan berbagai tes untuk menjelaskan kepadanya kenapa Kara hanya sebatang saja?

Namun percobaan ilmiah di bawah mikroskop elektron pun mengkhianatinya. Tidak ada yang tidak normal pada Kara. Seperti dua ratus tumbuhan dikotil miliknya yang lain, Kara sama-sama memiliki semua struktur jaringan batang. Kara normal, kecuali fakta bahwa dia tidak tumbuh namun tidak mati.

Dia cek tanahnya, semua zat hara yang dikandung pun sama dengan tanah belakang rumahnya. Dia pindahkan di tempat agar arah sinar matahari yang mengenainya berpindah. Kara tak bergeming. Tetap sama seperti semula.

Dia suntikkan hormon untuk mempercepat pertumbuhannya. Sampai diracuninya agar sakit. Nihil. Kara tetap sebatang tanpa bertumbuh atau runtuh satu milimeter pun.

Hampir frustasi, pria itu menulis surat kepada semua laboratorium canggih yang ia tahu untuk meneliti spesies baru ini. Seorang profesor sitologi dari laboratorium di Zurich membalasnya. Seketika itu dia terbang ke sana dan mewanti-wanti kepada awak penerbangan agar berhati-hati dengan sebatang Kara yang berada di ruang karantina.

Namun setelah tiga bulan penuh uji coba, tetap tidak ada yang berubah. Kara istimewa, itu saja kata mereka.

Pria itu pulang lagi dan bertemu dengan seorang politisi.

“Kabarnya kau punya sebatang Kara?”

“Ya. Dia istimewa.”

“Bagaimana jika kita kenalkan dia kepada dunia?”

“Baiklah.”

Lalu tersiarlah cerita tentang Kara sampai seantero negeri. Kara difoto, dicetak di buku-buku pelajaran dan ensiklopedi. Pria itu diundang ke berbagai acara televisi dan radio, diminta berbicara tentang bagaimana cerita hidupnya dan sebatang Kara yang ia punya. Pria itu senang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, banyak yang mendengarkannya.  Sang politisi selalu setia menemani, di penghujung acara ia selalu menambahkan di pidato panjangnya, Kara adalah keajaiban dunia, begitu pula dengan dirinya.

Lalu di bulan berikutnya, politisi itu jadi walikota dan tidak pernah lagi duduk membahas Kara.

Namun sejak saat itu, orang-orang mulai berbondong-bondong datang kepada Kara. Ada yang bersemedi, menaruh sesaji, dan minum dari air siraman Kara. Jika Tuhan satu-satunya di dunia, bukankah Kara juga? Begitu kata mereka.

Rumah pria itu semakin penuh sesak, namun entah mengapa ia merasa semakin sepi.

SUATU hari Kara dicuri. Orang-orang kalut mencari kesana kemari. Anak-anak menangis kehilangan dongeng yang selalu diceritakan ibu-ibu mereka. Ayah-ayah bergantian jaga setiap malam di sekitar rumah pria itu untuk menemukan jejak pencurinya. Bahkan walikota yang sudah tidak pernah datang lagi kini turun tangan, bersama kamera-kamera televisi yang besar-besar dan karavan-karavan yang berisi tentara. Katanya, hari itu dijadikan hari siaga Kara. Semua sekolah libur. Kantor-kantor berhenti bekerja. Toko-toko tutup. Pencuri Kara harus menyerahkan diri dalam waktu 1×24 jam jika tidak ingin ditembak mati.

Di sore hari seseorang muncul dengan gemetar memeluk sebatang Kara yang tetap mencuat dengan jumawa.

Pencurinya mengaku ia punya terlalu banyak beban dalam hidupnya. Istrinya dua, anaknya lima, perempuan semua dan saat ini mengandung semua. Saat itu, Ia hanya ingin merasakan hidup dengan sebatang Kara.

Walikota dapat pujian lagi. Kata warga ia berhasil menegakkan keadilan dan keamanan di kota mereka. Namun sejak saat itu, ketakutan berpendar seperti cahaya obor yang semakin besar. Mereka bilang sebatang Kara berbahaya.

Demi namanya, walikota itu pun memerintahkan pria itu untuk membawa Kara pergi jauh. Sangat jauh hingga anjing-anjing polisi pun tidak mampu lagi mengendus jejaknya. Namun pria itu tidak mau. Sebatang Kara telah menjadi separuh hidupnya. Ia memilih menjaganya sendiri. Memulangkan Kara ke tanah tempat awal ia menanamnya. Mungkin jika tadi kau ingin bertanya untuk apa pagar listrik di sekitar rumahnya itu, sekarang kau sudah dapat jawabannya.

PRIA itu punya kesukaan baru. Duduk lama-lama di depan Kara dan memandanginya dengan terpesona. Ia bahkan membangun kursi kayu dengan sandarannya tepat di depan Kara. Kadang-kadang ia membawa bantal dan selimutnya serta sehingga ketika malam tiba ia tidak perlu beranjak pergi, dan Kara jadi yang pertama dilihatnya ketika bangun membuka mata, tanpa perlu bersusah-susah pergi lagi.

Demi sebatang Kara pria itu kehilangan semua hartanya. Lalu waktunya. Berikut tenaganya.

Lama-lama burung-burung pergi, ular-ular meninggalkan kulitnya, dan tupai terbang tidak pernah terlihat lagi. Seratus pohon yang  dulunya tinggi dan lebat pun mulai meranggas mati. Lama-lama ia tidak pernah berkunjung ke hutan kecilnya lagi.

Lama-lama tahun berganti, uban-uban mulai merambat di rambutnya yang lebat, keriput mulai membekas di wajahnya yang pucat. Kehilangan mulai menggerogoti rongga matanya dari dekat.  Lama-lama ia sudah tidak pernah keluar rumah lagi.

Lama-lama orang tidak peduli lagi apakah di dalam sana ada narapidana, darah bayi dan gadis, ataukah mesin pengeruk berlian. Lama-lama orang pun lupa bahwa rumah itu ada. Lupa bahwa pria itu ada.

Tapi ketika menulis ini aku sebenarnya hanya ingin kalian tetap ingat. Dia adalah seorang pria dengan sebatang Kara yang ia jaga sampai akhir hayatnya.

*Dimuat di Jakartabeat, 16 Juni 2013

https://www.jakartabeat.net/prosa/konten/sebatang-kara?lang=id

Standard
Inner Thought

What I Know about Losing A Lover (Again)

There are so many things that people who have lost love knew. They knew that part of their soul have been gone to the alterside, a doorstep that very close yet far away. They knew about the wheel that keep spinning, and their direction has never been the same again since that day. They knew that the movie has end, but had they go home so soon, they will find empty bed and cold cake, untouched. So they would read the closing credits running on the big cinema screen just to buy more time. 

I know about losing. The dense air that pollute my lungs when I try hard to breath normally. Your familiar scent that brought back thousand ships of good memories. Every street and corner, places to exchange stories. Dreams that we build by stones and sweat. Songs that keep repeating the revery. Friends that keep wondering what’s going on with our story.

But it will go away.

People who have lost understand. That a mutual decision is not supposed to hurt. It meant to save each lover, encourage them, bringing the best in them. Sometimes it comes with the sweet pink ribbon package to set their lover free.

Why did I set you free? (Or you set me free). Maybe because we were just two adults who happened to stumbled upon each other pathway. We get along with great things in between.We made each other better, without demanding too much. You and I didn’t fit with all “against the wold” teenager crap, because we are – of course – belong to those bigheaded grown ups who want to make the world a better place.

But it eventually go away.

What people who have lost love learn, is that they once or twice love someone that much. It feel like they won’t make it a day more without their significant others. It feel like when there is a possibility that their precious is being taken away from them, it will ripped out their soul, body, and mind so cruel they might die painfully. But then it occured. And guess what, they don’t die.

I think I would suffer some terribly grey and cloudy days ahead when we part in that coffee shop downtown. I think I will weep the ocean dry. I think I will write sad stories, then play sad song, and eat sad ice cream with sad thick topping, while walking on the sad shoes, waving to sad cab that driving along the sad street. I didn’t.

It has gone away.

Truth is I forget how does it feel to be really sad. You built me brick and brick strong and sound. Truth is I slowly forget how does it feel to love you melancholically. Because I managed to wash the feeling away for good. But as cold as I become, remember that just because I don’t feel it anymore doesn’t mean the feeling once shared wasn’t true. It just is no longer relevant anymore, not if we mutually decided to move on to the next phase of life without each other companion.

And, just like other people who have lost love, someday we will find another lover. Someday I will find a person who makes me feel weird, person who doesn’t mind me being weird. And we will go in each other side to the weird place, wearing weird clothes, doing weird hobbies, reading weird books, talking weird languages, and admit how in each other company we feel the completely normal. That lover will be the reason of my simple happiness. Like never before.

.

.

.

But I’m afraid it will go away. Again.

Standard
Life Journal

Tentang Cinta di Antara Kopi, Rokok, dan Warung Kelontong

Musim hujan turun di Magelang.

Saat itu sekitar pukul tiga sore, kami -saya dan lima orang teman- kelimpungan cari tempat berteduh di jalan. Setelah berburu sunrise di Suroloyo paginya, kami bertolak ke Semarang dengan tiga motor yang beriringan. Sayangnya hujan deras hanya membolehkan kami sampai warung kelontong yang jual detergen, gorengan, kopi, dan atap.

Lama kami menunggu, berdempet-dempet di bangku kayu memandangi jalanan aspal basah dan orang-orang yang menepi ikut berteduh.

Di sebelah saya Andrall, teman perjalanan yang mengingatkan saya akan perpaduan Rendra dan Rano Karno di masa muda. Ia mulai uring-uringan. Rokoknya habis dan warung kelontong gagal menyediakan. Rupanya sudah sejak semalam ia tidak merokok. Merek rokok pacarnya -yang juga ikut dalam rombongan- pun tak bisa menggantikan apa yang ia inginkan.

“Ndrall.. apa itu mencintai?” saya potong gusarnya dia dengan pertanyaan.

“Ngggg??” Andrall bergumam, mencerna pertanyaan saya yang tiba-tiba.

“Menurutmu, mencintai itu apa?” saya susun ulang pertanyaan spontan tadi.

“Mencintai itu… adalah ketidakterpaksaan.”

Andrall mengalihkan pandangan ke arah depan, entah kepada hujan atau pacarnya. Saya tertegun, tidak menyangka jawaban dari mencintai adalah sebuah frasa adjektif.

“Kalau dicintai, itu apa?” saya bertanya lagi.

“Dicintai itu, Shof, adalah sebuah keberuntungan.”

Aaah.. Saya jadi kagum tapi malas mengaku. Sambil memutar-mutar gelas kopi, saya lanjut meluncurkan permainan tanya. Berharap kali ini Andrall tidak bisa menjawab.

“Lantas bisakah mencintai dan dicintai berdiri sendiri-sendiri?”

“Bisa,” kata Andrall pasti. “Tapi mereka seperti rokok dan kopi. Tak pernah lengkap tanpa satu sama lain.” Lalu ia menenggak kopi hitamnya yang sudah mendingin. Dan saya juga, ikut menghabiskan gelas kopi saya sendiri, yang saat itu baru terasa kemanisan.

Pukul lima. Hujan masih turun perlahan. Semarang harus kami relakan.

IMG_2723

Magelang, 7 Mei 2016

Standard
Poets

Pukul Tiga

*Untuk Samsul, Andrall, Oji, Gaga, dan Tirsa.

 

pukul tiga tadi aku mengamatimu

yang lelap dalam hitam tembaga

tubuh-tubuh lelah bersilang dan berjuntakposisi;

meracau keraguan-kekosongan bunga tidur

nyala dan rupa yang tak akan kau ingat esok hari

 

hanya aku yang akhirnya terjaga pada pukul tiga

bukan dengkurmu yang membangunkanku,

bukan aspal jalan raya yang tergilas truk dan meronta,

atau derit kipas angin yang

mengingatkanku pada ringkih tua ibu bapak kita

bukan perkara tidur kita

 

sebab alarmmu bising berbunyi sejak tadi

menjelma rencana suka cita ingin riuh

seperti subuh kemarin di puncak Kendil

O Suroloyo! wangi kabutmu pekat di wajah-wajah musafir

kenanganmu lekat direkam lensa gawai kami

 

tapi kantuk terlalu kejam, kawan,

terlalu kejam untuk melanjutkan perjalanan

 

di sebelah bantal-bantal,

kurutuki tangan-tangan kita yang sengaja bersisian

akankah kubangunkan kau yang terpejam damai?

apakah tega kusintas pertarungan batin yang bahkan belum kau selesaikan?

 

pukul tiga pagi yang hanya ada aku sendiri itu,

kurelakan pembicaraan tentang lereng Gunung Sumbing

menguar jadi embun pada spion-spion motor dingin di garasi

 

maka cinta pada matahari pagi itu, kawanku,

adalah sebuah peruntungan yang hanya sekali kita miliki

 

Magelang, 8 Mei 2016

Standard
Inner Thought

Dua Puluh Empat

Bilangan yang monumental karena tanpanya sehari tak genap. Dua tahun tak lengkap. Dan kalau bukan karena dipaksa usia, cerita tentang keberadaan rumah lama ini makin menguap.

Tapi ya, saat ini di sinilah saya, berbenah lagi. Pulang lagi ke Yogyakarta, ke kebiasaan lama, ke kanal-kanal maya yang dengan sengaja terabaikan. Berusaha keras menggapai-gapai kilasan kejadian yang walau tidak terlupakan, menjadi tidak lagi mampu terkatakan. Benar kata seorang guru, menulislah di kala terpana. Sebab jika sudah hilang rasanya, hilang juga gairah dan letupan-letupan pada tulisan itu. Lalu rohnya gentayangan menghantui saya, mengapa gagal kisanak mencatat sejarah?

Dua tahun saya menghukum diri. Menjual jiwa pada hibrida setan dan malaikat bernama Jakarta. Bertaruh sehabis-habisnya, karena saya lebih baik kehilangan daripada tidak mencoba.

Kebiasaan mengabadikan momen adalah salah satu yang saya lepas dengan merana di meja judi, saya dikutuk tak mengerti rasanya terpana lagi. Duluan mengantuk jika mau menulis lagi, sehingga hilanglah sejarah saya sendiri. Tapi sebagai ganti, saya dapat banyak kawan dan dengannya jadi banyak paham. Saya dapat banyak langkah, amunisi, dan strategi agar tidak bangkrut-bangkrut amat nanti ketika berjudi lagi dengan makhluk hibrida lainnya.

Saya mendapati bagian diri saya yang perlu ditemukan.

Dan di bilangan dua puluh empat juga, nanti ketika musim gugur tiba di belahan bumi sebelah utara, saya memutuskan untuk melakukannya lagi. Menjual jiwa raga pada hibrida lain yang kabarnya sangat pintar bersandiwara. Konon, New York namanya.

 

Pantai Indrayanti, 23 April 2016

 

Standard
11
Indonesia

Di Bawah Langit Dukuh Sebatang

 

Siang itu turun hujan, di sebuah rumah yang berjarak dari jalan aspal, jauh dari jalan raya, juga tidak terpetakan dari pusat kota, saya duduk menonton tiga anak bermain lempar bola di teras. Pagi hari, penderes nira naik ke pucuk pohon kelapa, lalu turun memikul sajeng (air nira) dalam tabung-tabung kayu yang dipikul di pundak, melintasi jalanan berbukit terjal yang menukik dan berbelok tajam. Oleh mereka, sajeng ini disetor ke pengolah nira untuk dimasak dan diproduksi jadi gula merah.

Di rumah yang sedang saya ceritakan ini, hidup sepasang nenek dan kakek yang setiap hari mencetak gula merah. Saya bersama teman saya, Rizka, adalah pendatang yang mampir berteduh di rumah ini. Rizka lanjut membantu nenek yang dipanggil Si Mbah di dapur mengirisi tomat dan brambang untuk makan siang, bergantian dengan saya yang perlahan menjauh mencari ruang untuk memperhatikan. Cucu dari Si Mbah tadi, salah satunya adalah anak yang sedang saya perhatikan dari jauh. Ia memisahkan diri dari kedua temannya yang lain, duduk di sudut yang bersisian dengan saya.

12

Si Mbah mengolah nira jadi gula kelapa

Di rumah yang sedang saya ceritakan ini, hidup sepasang nenek dan kakek yang setiap hari mencetak gula merah. Saya bersama teman saya, Rizka, adalah pendatang yang mampir berteduh di rumah ini. Rizka lanjut membantu nenek yang dipanggil Si Mbah di dapur mengirisi tomat dan brambang untuk makan siang, bergantian dengan saya yang perlahan menjauh mencari ruang untuk memperhatikan. Cucu dari Si Mbah tadi, salah satunya adalah anak yang sedang saya perhatikan dari jauh. Ia memisahkan diri dari kedua temannya yang lain, duduk di sudut yang bersisian dengan saya.

“Kamu suka hujan?” Saya memeluk lutut sambil duduk merapat ke arahnya, mempersingkat jarak.

“Ndak, Mbak.” Ia menjawab singkat.

“Lebih suka musim panas?” Saya bertanya lagi. Ia hanya mengangguk singkat tanpa kata. Masih asing dengan kehadiran saya.

“Kenapa?” saya bertanya lagi. Semoga pekerjaan sehari-hari yang mengharuskan saya sering bertanya sampai jadi kebiasaan, tidak membuat anak kelas 4 SD ini dongkol. Ia menggeleng lagi, menghindari tatapan mata saya. Mungkin karena terdengar menguji seperti soal Bahasa Indonesia di buku LKS yang tidak ia sukai, sementara ia tidak tahu harus menjawab apa. Sementara hujan di luar masih turun dengan derasnya.
Kunjungan singkat saya selama dua hari ke Dukuh Sebatang, Desa Hargotirto, Kulonprogo, Yogyakarta kali ini adalah dalam rangka bertemu dengan adik asuh dalam program pendidikan Menyapa Indonesia yang dijalankan oleh penerima beasiswa LPDP RI. Layaknya anak-anak desa pada umumnya, anak-anak Sebatang pemalu di depan orang asing. Jangankan beropini, berbicara sambil memandang lurus mata orang yang mengajak berbicara pun tak berani.

Anak itu bernama Zandy, adik asuh yang dipasangkan oleh Rizka sebagai Kakak Inspirasi. Sementara saya sendiri menjadi Kakak Inspirasi bagi Rimba, seorang anak laki-laki berbadan tambuh yang lebih periang, namun sama curiganya dengan kehadiran orang baru yang tiba-tiba. Kami baru saja berkunjung ke rumah Rimba sebelum menghampiri rumah Zandy. Rimba dan Zandy adalah teman sekelas. Dari salah satu teman koordinator program saya diam-diam mencatat hasil pemetaan observasi, mereka senang bermain di luar ruangan; Rimba senang bersepeda dan Zandy senang bermain layangan.

“Nek hujan, ra iso main layangan po?” celetuk saya sambil curi pandang ke layangan kuning-biru besar di sudut ruangan. Memegangnya dengan hati-hati, takut merusak benda kesayangan Zandy yang berharga ini.

“Ho’oh,” merasa terbantu dengan pertanyaan yang dijawab sendiri oleh orang yang menanyakan, Zandy tersenyum lebar memamerkan deretan giginya yang besar-besar. Dua anak yang lain menghentikan permainan dan merapat ke perbincangan kami.

“Yo nyanyi wae lah nek ngono!” di tengah percikan hujan yang memantul-mantul di genteng, saya ambil tempo dengan tepukan tangan, bersiap memimpin paduan suara, “Ku ambil buluh sebatang.. Ku potong sama panjang.. Ku raut dan ku timbang dengan benang.. Ku jadikan layang-layang…” Hening. Tidak ada yang pernah mendengar lagu itu sebelumnya kecuali saya, seseorang dengan usia yang berjarak, serta ruang kehidupan yang sebelumnya terpisah. Jauh.

 

Fungsi Pendampingan dalam Proses Belajar Anak adalah Tugas Bersama

Zandy, Rimba, Ridho, Shafiq, Edi, Bherta, Dwi Astari, dan Dwi Riyanti. 8 orang anak kelas 4 SD Muhammadiyah Menguri ini selama 3 tahun ke depan menjadi adik-adik asuh kami. Amanah baru bagi kami di Menyapa Indonesia.

Program Menyapa Indonesia adalah inisiatif sosial yang dikembangkan oleh awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Republik Indonesia. Setiap angkatan memiliki fokus yang pengembangan masyarakat yang berbeda, secara berkelanjutan selama tiga tahun. Jivakalpa, angkatan 43, fokus pada pengembangan masyarakat di bidang pendidikan dan kebudayaan di Sebatang. Cetak biru rencana kegiatan, pengembangan, dan monitoring evaluasi berkelanjutan telah dibuat dengan tidak main-main. Meski lokasi program Menyapa Indonesia kami berada di Yogyakarta, hampir setiap minggu ketika program berjalan, beberapa awardee dari luar kota menyempatkan hadir.

Forum Kakak dan Wali Inspirasi yang diselenggarakan pada tanggal 7 November 2015 ini merupakan salah satu program di bidang pendidikan. Forum tersebut mengundang orang tua dan wali siswa, siswa, guru, dan kepala sekolah untuk duduk bersama dan berdiskusi tentang pendampingan anak. Di dalamnya, anak-anak didorong untuk berprestasi, memiliki semangat belajar tinggi, dan berani mencoba melakukan hal-hal yang mereka sukai. Forum ini juga dijadikan ajang “kulo nuwun” untuk pendekatan pendamping anak dengan pihak sekolah dan keluarga.

13

Orang tua dan wali bersama siswa dalam forum

“Dulu belum pernah ada pertemuan wali dengan sekolah. Setelah ada program Menyapa Indonesia, semua merasa memiliki program ini dan mau hadir di sini,” kata Bu Uji, Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Menguri. Bu Uji ini adalah tipikal kepala sekolah yang aktif dan bersemangat mendampingi anak didiknya dalam proses belajar, namun masih belum mendapatkan dukungan maksimal dari orang tua dan wali murid.

Saya termenung. Masalah klasik yang jarang ditemui di kota karena setiap orang tua yang bayar mahal tentu rajin mencari tahu perkembangan anaknya di sekolah. Namun di desa, jangankan bertemu dengan pihak sekolah, untuk bertemu anak pun, banyak masih terhalang ruang dan waktu. Tuntutan ekonomi membuat beberapa orang tua siswa bekerja sebagai TKI di luar negeri, bertahun-tahun tidak pulang. Pun bekerja di sekitar desa, mata pencaharian sebagai supir truk, peternak, dan penderes nira cukup menyita waktu sehingga edukasi anak tersingkir ke nomor sekian setelah urusan perut dan kemelut kehidupan.

Padahal, tanpa pendamping, anak akan tumbuh menjadi burung yang melihat dunia dalam sudut sangkar yang persegi empat, ketika di luar sana ada horizon yang melintang tanpa sudut batas. Sempat saya iseng ngobrol dengan seorang bapak yang rumahnya kami tinggali untuk bermalam, tentang pendidikan anaknya.“Wah ndak tau, Mbak. Sekolahnya anak itu urusan ibunya anak-anak. Saya sibuk sama kerjaan e, Mbak.”

Saya nyengir kuda. Lha kalau bapak berharap ke ibu, ibu  berharap ke guru, guru berharap ke kepala sekolah, kepala sekolah berharap ke kami, kami berharap ke siapa dong?

Lingkaran kejar-kejaran ini lumrah ditemui di berbagai pelosok di Indonesia. Oleh karenanya program pemberdayaan masyarakat idealnya digalang untuk berjalan dalam waktu panjang. Karena proses pendekatan, seperti yang siang itu saya lakukan kepada Rimba dan Zandy, memang tidak bisa secepat merebus mie instan, lima menit jadi, sepuluh menit kenyang.

Andai semudah itu…

 

Sepucuk Surat dan Khayalan tentang Masa Depan

Bagi saya dan teman-teman, hadir ke Sebatang bukan hanya perkara menyisihkan budget untuk transportasi dan waktu akhir pekan untuk berjalan lebih jauh. Tapi melihat bahwa ruang interaksi kami yang sempit ternyata bisa menjadi lebar jika sudah bertemu. Jika sudah kenal, dekat, saling percaya, maka fungsi pendampingan menjadi sesederhana menjadi teman sepermainan bagi semua pihak yang sedang berjuang di sana.

Salah satu usaha pendekatan yang kami lakukan adalah mengirimi surat motivasi kepada adik asuh di sana. Beberapa teman juga menjembatani tukar sapa antara teman-teman di UK dari asosiasi alumni LPDP, Mata Garuda, yang mengirimkan kartu pos kepada mereka. Semua anak mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika saya tanya siapa yang ingin ke Inggris. Sebelumnya, Mas Sandro bercerita di depan kelas tentang empat musim di Inggris ketika dia tinggal dan bekerja di sana. Surat dan cerita jadi bahan bakar kami mengkhayal tinggi-tinggi. Ke negeri yang tanahnya belum tersentuh, yang namanya tersohor lewat olahraga sepak bola yang setiap sore dimainkan anak-anak di Sebatang.

14

Zandy (baju hijau), adiknya (baju putih), temannya (baju merah), dan saya yang berjuang keras menarik perhatian mereka dengan topeng gorila

Mungkin karena itu, sepulang sekolah, Zandy yang ibunya sudah bertahun-tahun tidak pulang karena bekerja di Hongkong, menulis surat balasan untuk Rizka dan menyerahkannya tanpa suara.

==

Halo Kak Rizka, Ini Zandy.

Ini ada surat untuk Kak Rizka.

Semoga Kak Rizka bisa tersenyum.

Semoga Kak Rizka semangat kuliyahnya.

Kalau aku di Sebatang Belajar untuk meraih cita-cita ku. Saya belajar mahrib sampai insyak. Aku Juga Belajar dengan tekun.

Salam Zandy

Tanda tangan

==

“Terima kasih ya, Zandy. Suratmu bagus sekali.” Rizka memeluk adik asuhnya di depan saya. Zandy hanya diam, tertunduk. Sedetik kemudian ia mulai terisak, menggulirkan butir-butir bening dari matanya yang mendung dan basah. Entah karena malu atau karena berharap suatu saat, ibunya yang mengirimkan surat dan memuji surat balasannya. Rizka ikut menitikkan air mata, sementara di luar hujan masih turun dengan derasnya.

Di sudut rumah yang dipenuhi mainan yang dikirimkan dari Hongkong, hari itu saya mencoba memahami, Zandy lebih suka bermain di luar, menerbangkan layangan sekaligus khayalan. Mungkin ada pesan yang tidak terucapkan dengan kata, yang hanya bisa dimengerti oleh angin dan dua musim di bawah langit Sebatang.

Senyap karena Zandy dan Rizka masih menangis tanpa suara, saya yang merasa canggung lalu menepuk-nepuk pundak mereka berdua sambil bersenandung pelan.

“Bermain… Berlari… Bermain layang-layang.

Bermain ku bawa ke tanah lapang.

Hati gembira dan riang…”

*tulisan ini dipublikasikan di website angkatan penerima beasiswa BPI LPDP RI angkatan 43, Jivakalpa di sini

Standard